Rabu, 05 September 2012
ANEKA ARTIKEL BIOLOGI DAN PERTANIAN Informasi sekitar ilmu biologi dan pertanian
Mengenal Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum)
Bunga bangkai atau suweg raksasa atau batang krebuit (nama lokal untuk fase vegetatif), Amorphophallus titanum Becc., merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae) endemik dari Sumatera, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia, meskipun catatan menyebutkan bahwa kerabatnya, A. gigas (juga endemik dari Sumatera) dapat menghasilkan bunga setinggi 5m. [1] Namanya berasal dari bunganya yang mengeluarkan bau seperti bangkai yang membusuk, yang dimaksudkan sebenarnya untuk mengundang kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Banyak orang sering salah mengira dan tidak bisa membedakan bunga bangkai dengan Rafflesia arnoldii. Mungkin karena orang sudah mengenal Rafflesia sebagai bunga terbesar dan kemudian menjadi bias dengan ukuran bunga bangkai yang juga besar.
Pemerian
Bunga bangkai di brosur
Kebun Raya Bogor
Tumbuhan ini memiliki dua fase dalam kehidupannya yang muncul secara bergantian, fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif muncul daun dan batang semunya. Tingginya dapat mencapai 6m. Setelah beberapa waktu (tahun), organ vegetatif ini layu dan umbinya dorman. Apabila cadangan makanan di umbi mencukupi dan lingkungan mendukung, bunga majemuknya akan muncul. Apabila cadangan makanan kurang tumbuh kembali daunnya.
Bunganya sangat besar dan tinggi, berbentuk seperti lingga (sebenarnya adalah tongkol atau spadix) yang dikelilingi oleh seludang bunga yang juga berukuran besar. Bunganya berumah satu dan protogini: bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Hingga tahun 2005, rekor bunga tertinggi di penangkaran dipegang oleh Kebun Raya Bonn, Jerman yang menghasilkan bunga setinggi 2,74m pada tahun 2003. Pada tanggal 20 Oktober 2005, mekar bunga dengan ketinggian 2,91m di Kebun Botani dan Hewan Wilhelma, Stuttgart, juga di Jerman. Namun demikian, Kebun Raya Cibodas, Indonesia mengklaim bahwa bunga yang mekar di sana mencapai ketinggian 3,17m pada dini hari tanggal 11 Maret 2004 [2]. Bunga mekar untuk waktu sekitar seminggu.
Detil data Amorphophallus titanum Becc.
Spesies : Amorphophallus titanum Becc.
Nama Inggris : Titan Arum
Nama Indonesia : Bunga Bangkai, Suweg Raksasa
Nama Lokal : Suweg raksasa, Kubut, Kehubut (Bengkulu)
Deskripsi : Bunga Bangkai termasuk di dalam suku talas-talasan (Araceae), tumbuh secara liar dan jarang hidup merumpun. Dari satu umbi biasanya muncul satu tunas saja. Umbi yang sudah dewasa garis tengah dapat mencapai 80 cm. Daunnya disebut daun majemuk yang tangkai daunnya disebut sebagai batang semu yang berwarna hijau dengan bercak-bercak putih seperti kulit ular, serta mencapai tinggi 3 m dengan garis tengah 30 cm. Perbungaannya berbentuk tongkol dengan bunga jantan dan bentinanya menempel pada tongkolnya. Bunga jantan terletak pada bagian atas tongkol, sedangkan bunga betinanya terdapat pada bagian pangkal tongkol. Bunga betina masak lebih dahulu dari bunga jantan, sehingga jenis ini memerlukan bunga jantan yang berasal dari perbungaan yang lain. Bau busuk inilah yang mengundang serangga (lalat) untuk datang dengan harapan membawa serbuk sari dari perbungaan yang lain. Perbungaan ini tingginya bisa mencapai 2 m dengan lebar mahkota bunga/spadik 1,5 m serta warnanya bervariasi dari merah lembayung sampai kehijauan. Hal yang unik serta menjadi dasar perlunya jenis ini dilindungi dari kepunahan adalah siklus pertumbuhannya. Dalam pertumbuhannya sampai dewasa ada 3 tahap, pertumbuhan vegetatif merupakan tahap dimana umbi tersebut menghasilkan daun saja.
Distribusi/Penyebaran : Jenis ini umumnya tumbuh di kawasan deretan Bukit Barisan di Sumatera namun di Bengkulu populasi bunga bangkai ini masih cukup tinggi dibandingkan dengan tempat lain.
Habitat : Jenis ini di alam menyukai tanah alluvial yang subur, gembur, kaya akan humus dengan pH 6-7. Tumbuh pada lahan-lahan yang miring seperti di tepi sungai, pada tempat terbuka dan kadang ditemukan juga di kebun-kebun kopi.
Perbanyakan : Perbanyakan dapat dilakukan dengan umbinya. Umbi tersebut dipotong-potong membujur. Bagian pucuk tumbuhnya harus diikutkan agar potongan umbi dapat berkecambah. Perlu dijaga agar potongan umbi tidak membusuk karena serangan bakteri atau jamur.
Manfaat tumbuhan : Umbinya dapat digunakan untuk bahan baku glukomanan walaupun kandungannya tidak terlalu tinggi dan dikatakan juga dapat dijadikan sumber konyaku.
Sumber Prosea : Mengenal Nusantara melalui Kekayaan Floranya p.23 (author(s): Sastrapradja, S. & Mien A. Rifai)
Kategori : Identitas propinsi Bengkulu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar